Pedoman Puasa Bagi Anak

Assalamu`alaikum wr wb.

 


Screen shot 2012-07-16 at 4.56.18 AMSahabat Fahima, beberapa hari lagi insyaAllah kita akan menjumpai bulan mulia, yaitu bulan Ramadhan. Persiapan ruhiyah serta persiapan fisik tentunya sudah mulai kita lakukan sejak beberapa minggu yang lalu, dengan harapan bisa mengisi bulan mulia nanti dengan ibadah-ibadah Ramadhan secara maksimal.

Lalu, bagaimana persiapan dengan anak-anak kita, apakah sudah mulai kita persiapkan juga? Atau bahkan masih ragu untuk mulai melatih puasa anak-anak kita karena usianya masih terlalu kecil?

Artikel Tim PPA kali ini, insyaAllah akan menjawab keraguan sahabat Fahima semua, sekaligus memberikan tips dan langkah sederhana dalam mengajarkan anak berpuasa.

Semoga bermanfaat.

 

Wassalamu`alaikum wr wb.

 

        Tim PPA

 

 

PEDOMAN PUASA BAGI ANAK

 

 

Dari pandangan syara`, puasa bagi anak-anak pada dasarnya tidak wajib, meski demikian mengajari mereka sejak dini agar terbiasa berpuasa merupakan perbuatan sunnah Nabi dan para salaf shalih as. sepanjang mereka mampu menjalankannya. Rasulullah saw bersabda:

Dari Rubayyi binti Muawidz berkata: Di pagi Asyura’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke kampung-kampung Anshar :” Siapa yang pagi ini dalam keadaan puasa maka sempurnakanlah puasanya, dan barangsiapa yang pagi ini dalam keadaan tidak berpuasa, maka berpuasalah pada sisa hari ini. Dan kami pun melakukan puasa Asyura’. Sebagaimana kami menyuruh puasa anak-anak kecil kami, dan kami beserta putra-putra kami berangkat ke masjid dengan menjadikan mainan dari kapas buat mereka, jika ada salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami berikan mainan itu kepadanya sampai masuk waktu berbuka” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa melatih anak dalam berpuasa merupakan anjuran syara` yang tidak terbantah. Hadits tersebut di atas dalam konteks puasa sunnah yaitu puasa Asyura`, bagaimana dengan puasa wajib Ramadhan? Tentu Ramadhan memiliki tempat tersendiri bagi Rasulullah saw dan salaf saleh. Bila dalam puasa sunnah Rasulullah membenarkan adanya latihan puasa bagi anak-anak, maka dalam puasa wajib tentu lebih prioritas.

 

Imam al-Bukhari memandang bahwa belajar puasa bagi anak yang belum baligh sudah mentradisi di kalangan penduduk Madinah dan ini merupakan dalil syara` tersendiri. Dalam khazanah fiqih Islam kita dapatkan bahwa mayoritas ulama memandang pentingnya pemberlakuan puasa bagi anak yang belum baligh meski tidak berstatus wajib. Sebagian mereka seperti Ibnu Sirin, az-Zuhri, as-Syafii memandang sunnah dalam pembelajaran tersebut dengan catatan, hal tersebut mampu dilakukannya secara normal. Bahkan Ibnu Majisyun al-Maliki memandang agak berbeda dari para ulama Maliki yang lain bahwa anak yang telah mampu berpuasa, maka puasa baginya adalah keharusan dan jika meninggalkannya tanpa udzur maka harus membayarnya ( qadha). (lihat Fathul Bari; Ibnu Hajar al-Asqalani: 5/103).


Sedangkan menurut pandangan medis, dr. Ariani Dewi, Sp.A. telah memberikan rambu-rambu tentang puasa pada anak ini. Anak berbeda dengan orang dewasa. Pada orang dewasa nutrisi yang masuk ke dalam tubuh digunakan untuk menjalankan proses metabolisme sehari-hari sesuai aktivitas. Saat berpuasa, terjadi penurunan kadar gula darah dan membuat tubuh harus menggunakan cadangan glikogen yang tersimpan dalam tubuh. Pada anak, nutrisi dan kadar gula darah yang tetap, digunakan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk perkembangan otak. Karena itu memang beralasan bahwa puasa penuh, baru dianjurkan pada anak yang sudah mencapai usia aqil baligh (pubertas).

 

Tetapi kita semua tentu sepakat, meskipun puasa bukanlah suatu kewajiban yang harus dilakukan anak-anak, namun tentu orang tua ingin mendidik untuk mempelajari esensi berpuasa secara dini, sekaligus melatih mereka agar bila tiba saatnya nanti mereka dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Kalau begitu bagaimana puasa untuk anak kecil? Menurut dr. Ariani, hingga saat ini belum banyak penelitian mengenai pengaruh berpuasa pada anak, terutama dalam hal kesehatan dan tumbuh kembang, sehingga orang tua harus cermat mempertimbangkan kondisi dan keterbasan kemampuan anak.

 

Beberapa tips dan langkah sederhana dalam mengajarkan anak berpuasa menurut dr. Ariani, antara lain:

  1. 1.Perkenalkan konsep berpuasa pada anak.

Sejak sebelum Ramadhan tiba, luangkan lebih banyak waktu dengan anak untuk duduk dan bercerita mengenai puasa. Ajaklah anak berbincang-bincang mengenai makna dan manfaat berpuasa. Ceritakan kepada mereka apa yang dilakukan seorang yang berpuasa dan apa yang diharapkan. Kegiatan ini dapat dimulai sejak anak masih sangat kecil (2-3 tahun), tentu dengan penjelasan yang disesuaikan dengan usia anak.

  1. 2.Buat kesepakatan.

Setelah anak `berkenalan` dan memahami kegiatan puasa dan bulan Ramadhan, tanyakan kepada anak kita, apakah tertarik untuk mencoba? Bila ya, ajaklah untuk membuat jadwal bersama-sama, yang tentunya disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatannya. Jadwal ini boleh dibakukan dalam bentuk label, yang tentunya bukan harga mati dan masih dapat dimodifikasi sesuai keadaan dan keinginan anak.

Ada baiknya membuat jadwal berpuasa yang lebih pendek namun lebih sering pada anak yang lebih kecil, jadwal berpuasa penuh selang sehari lebih baik pada yang sudah besar dan mendekati usia aqil baligh. Bila diinginkan, dapat dibuat jadwal puasa dua tahap dalam sehari, misalnya setelah sahur hingga siang hari, kemudian makan siang dan berpuasa kembali sampai waktu buka puasa tiba.

 

Saat memulai, ikuti apabila anak hanya menyanggupi hingga waktu tertentu, dan tidak perlu membujuknya untuk memanjang-manjangkan. Apabila ia berhasil selama beberapa hari, anda dapat menanyakan apakah ia bersedia  mencoba menambah jam puasa untuk hari-hari berikutnya. Sebaliknya, apabila dengan semangat empat lima, anak yang masih kecil ingin berpuasa secara penuh, katakan dengan hati-hati agar tidak mematahkan semangatnya, bahwa sebaiknya ia mulai bertahap. Terbaik adalah menyepakati jadwal dan mematuhinya, dibandingkan dengan menyusun target yang terlalu tinggi dan akhirnya `mengajari` anak berbuka sebelum waktunya.

 

  1. 3.Sahur bergizi dan menyenangkan

Sejak anak masih belum berpuasa sama sekali, ia boleh diperkenalkan dengan kegiatan sahur, meskipun mungkin hanya pindah tidur ke sofa dekat meja makan. Dengan demikian, ia mulai mengenal dan mengalami aktivitas berpuasa secara riil, bukan hanya mendengar dari kakak-kakaknya. Perlahan saat usianya mulai bertambah, ajari anak makan sahur dengan sabar. Saat ia mungkin masih akan mengantuk, tawarkan apakah ia ingin sedikit susu atau makanan ringan. Dengan demikian, saat tiba waktunya latihan berpuasa, ia akan terbiasa dengan kegiatan sahur. Tentu seperti juga orang dewasa, hari-hari pertama berpuasa terasa lebih berat karena belum terbiasa. Walaupun mengantuk, usahakan agar kegiatan sahur berjalan dengan menyenangkan. Siapkan menu yang menarik dan bergizi tinggi bagi anak-anak yang akan berlatih puasa. Anak boleh dilibatkan juga dalam menentukan menu sahur, agar ia lebih bersemangat. Perbanyak makanan yang mengandung serat, agar anak tidak cepat lapar.

 

  1. 4.Suasana rumah mendukung.

Selama bulan puasa, buatlah suasana rumah yang mendukung berpuasa, misalnya membuat sudut khusus untuk membaca al-Qur`an dan kegiatan lain yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Libatkan anak dalam menyusunnya, dan mintalah mereka untuk membuat hiasan-hiasan dan gambar menarik yang dapat membangkitkan semangat saat mereka sedang berpuasa.

 

  1. 5.Kesibukan anak

Pada siang dan sore hari, usahakan memberi kegiatan yang menarik bagi anak, agar lapar tidak terlalu terasa. Carilah aktifitas yang tidak terlalu menguras energi sehingga anak tidak semakin lapar dan haus, misalnya menggambar, mewarnai, bercerita, atau permainan-permainan yang menggunakan kertas dan alat tulis. Bila mungkin, ajak anak-anak tetangga sekitar rumah untuk bermain bersama pada sore hari, dapat bergiliran di rumah masing-masing.

 

  1. 6.Beri penghargaan

Berilah penghargaan kepada anak bila ia berhasil menjalankan puasa, meskipun hanya beberapa jam. Hadiah tidak perlu berupa barang (sebaiknya tidak), utamakan pujian yang tulus. Hal ini akan memotivasi anak untuk terus berpuasa. Anda dapat memberikan stiker atau papan catatan yang dapat ditandai setiap kali anak berhasil berpuasa. Simpanlah table tersebut sebagai kenang-kenangan, dan dilihat kembali tahun depan saat menjelang bulan puasa.

 

  1. 7.Jaga kesehatan

Hal yang penting selama anak berpuasa, perhatikan kesehatannya. Kurangnya asupan makanan dan ketidakseimbangan metabolisme tubuh dapat menurunkan kekebalan tubuh anak, sehingga mudah sakit. Jaga jam tidur anak tetap cukup. Kebutuhan tidur anak usia kurang dari 10 tahun idealnya adalah 10-12 jam sehari, termasuk tidur siang. Karena itu, pastikan aktifitas sahur tidak mengganggu hal ini, misalnya dengan tidur lebih cepat pada malam sebelumnya.

 

Anak yang sakit tentu jangan dibiarkan berpuasa, biarkan anak pulih terlebih dahulu baru melanjutkan kembali puasa. Jelaskan kepada anak, mengapa ia sebaiknya tidak berpuasa dahulu pada saat itu. Pastikan asupan gizi termasuk vitamin dan mineral cukup baik. Suplemen vitamin dapat diberikan untuk menunjang, bila dianggap perlu. Bila berat badan anak menurun drastis, sebaiknya puasa dihentikan.

 

Ingatlah bahwa hal yang penting adalah memperkenalkan anak kepada ritual berpuasa dan menahan diri, termasuk berempati kepada orang lain yang berkekurangan. Jadi, jangan terlalu berfokus pada lama berpuasa itu sendiri, melainkan makna yang diperoleh anak selama menjalankan ibadah puasa.

 

Semoga kita sebagai orang tua, dimudahkan dalam membimbing anak-anak kita untuk berlatih menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

 

(Tim PPA)

 

Sumber:

  1. 1.http://www.dakwatuna.com/2010/08/7099/pedoman-orang-tua-tentang-puasa-bagi-anak-anak/
  2. 2.http://www.tanyadok.com/anak/2011/08/kapan-anak-mulai-belajar-berpuasa-dok/

Add comment


Security code
Refresh

logo sjj

Pengunjung

Hari ini241
Kemarin288
Minggu ini786
Bulan ini5422
All175879

Currently are 18 guests and no members online