Lain-lain

Pin Kecil Si Pengingat

Penulis: Apriliana Cahya Khayrani 

Pagi itu saya dan suami disibukan oleh benda mungil. Benda ini menurut kebanyakan orang tentulah bukan benda berharga. Begitu pun bagi kami, benda ini hanya benda kecil yang pada hari biasanya tak pernah kami perhatikan, tapi hari ini lain. Benda ini rasanya sangat penting ditemukan keberadaannya, segera. Suami menyisir semua wadah di sekitar kamar, menggulung futon (selimut tebal khas Jepang), dan menyapu area kamar sambil terus menajamkan mata. Sementara saya dan bayi kami menyingkir dari kamar. Hampir satu jam usaha kami terasa sia-sia. Tak juga kami temukan si benda mungil ini.

Benda mungil ini adalah pin kecil tajam yang berfungsi untuk menancapkan kertas atau kain. Pin tajam ini awalnya untuk menancapkan kain penutup lemari mini kami. Kami yang baru menjadi orang tua ini tidak menyadari bahayanya. Si kecil yang berusia sepuluh bulan teryata mulai sangat aktif sekali. Tarik ini itu, menjelajah ke sana ke mari, merambat ke atas meja balajar, dan memakan apa pun yang dipegangnnya. “Aduh, Bi, tertelan ndak ya pinnya?”, seru saya panik saat pin tajam itu tidak juga ditemukan.

Sikap Muslim Berkenaan dengan Natal

Penulis: Apriliana Cahya Khayrani

Bulan Desember bagi sebagian besar orang identik dengan bulan perayaan Natal, begitu pun di Jepang. Meskipun orang Jepang tidak merayakannya sebagai perayaan agama, tapi gegap gempita penyambutan dan perayaan Natal atau sering disebut kurisumasu (dari bahasa Inggris Christmas) sangatlah terasa di sini. Hari Natal, yaitu tanggal 25 Desember, di Jepang memang tidak menjadi hari libur nasional. Hanya saja, hiasan Natal dan pernak perniknya sangatlah dipersiapkan oleh orang Jepang. Pohon Natal gemerlapan menghiasi malam-malam bulan Desember hampir di seluruh Jepang. Supa-supa (supermarket) menyediakan paket-paket hadiah Natal dan cake khas Natal. Lagu-lagu bernuansa Natal pun terdengar di pusat-pusat pebelanjaan. Tempat penitipan anak atau daycare dan sekolah juga tak luput ikut merayannya dengan pesta Natal. Pada malam hari Natal pun orang Jepang menyediakan waktu bersama keluarga untuk makan malam ala parayaan Natal. Kita sebagai muslim yang tinggal di Jepang tentunya sedikit atau banyak akan berbenturan dengan kondisi ini. Tentunya sebagai muslim yang baik, kita harus mencari tahu, bagaimana syariat Islam mengajarkan sikap muslim menghadapi Natal ini.

Berikut ini adalah ringkasan ulasan fatwa ulama yang berkaitan dengan sikap muslim terhadap hari Natal. Ringkasan fatwa ini diambil dari tulisan ustadz Ahmad Sarwat, Lc. di website Rumah Fiqih Indonesia. Yang pertama adalah fatwa terkait memberi ucapan selamat atau tahni'ah. Ada beragam pendapat dari ulama mengenai boleh tidaknya hal ini dilakukan. Ada ulama yang mengharamkannya secara mutlak, tapi ada juga yang membolehkannya dengan beberapa hujjah (landasan). Ada juga pendapat yang agak di pertengahan serta memilah masalah secara rinci.

Haramnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal itu terutama dimotori oleh fatwa para ulama di Saudi Arabia, yaitu fatwa Al-'Allamah Syeikh Al-Utsaimin. Beliau dalam fatwanya menukil pendapat Imam Ibnul Qayyim. Sebagaimana terdapat dalam kitab Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (jilid III, hal. 44-46, no. 403), disebutkan bahwa:

“Memberi selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi, jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah”. Hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syariatnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad SAW telah diutus dengannya untuk semua makhluk. Adapun Fatwa Ibnul Qayyim terdapat dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah beliau berkata, “Ada pun mengucapkan selamat berkenaan dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syiar-syiar kekufuran yang mereka lakukan.

Antara Syukur dan Kufur

Jika manusia mau sedikit merenung dan berpikir lebih dalam, maka manusia akan menemukan sebuah kenyataan bahwa Allah SWT lebih banyak memberi mereka nikmat dibandingkan cobaan, penderitaan, kesulitan, dan sejenisnya yang manusia anggap sebagai sesuatu yang tidak enak atau tidak nyaman. Allah SWT berfirman:

"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Q. S. Ibrahim: 34)

Jika manusia mengingat dan mencoba menghitung nikmat Allah SWT, niscaya manusia tidak pernah mampu berhenti untuk mensyukuri nikmat Allah yang telah Allah berikan. Andaikan seluruh tumbuhan dan air laut dijadikan sebagai pena dan tinta, tidak akan cukup untuk menulis nikmat Allah. Sepanjang umur manusia seharusnya dipenuhi dengan rasa syukur, bahkan mungkin seluruh umur manusia tidak akan cukup untuk mensyukuri nikmat Allah yang sangat banyak.

Pernahkah Anda menanyakan harga oksigen di apotek? Jika belum tahu, harganya ± Rp 25.000,00/liter. Pernahkah Anda menanyakan harga nitrogen di apotek? Jika belum tahu, harganya ± Rp 9.950,00/liter. Tahukah bahwa dalam sehari manusia menghirup 2.880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen. Jika harus dihargai dengan rupiah, maka oksigen dan nitrogen yang kita hirup akan mencapai kisaran ± Rp 170.000.000,00/hari/orang. Jika kita hitung kebutuhan manusia sehari untuk bernafas saja 170 juta, maka sebulan 5,1 M per orang!

Namun, kebanyakan manusia lebih ‘fokus’ dalam menyikapi cobaan, penderitaan, kesulitan, dan yang sejenisnya, sehingga hal itu terlihat seolah begitu besar. Kita sering mendengar banyak manusia yang mengatakan “masalahku numpuk”, tapi kita sangat jarang mendengar manusia mengatakan “nikmatku (dari Allah) numpuk”. Karena terlalu memikirkan (mungkin lebih tepatnya meratapi) hal yang dianggap besar tersebut (sampai terbayang-bayang tiap jam, tiap menit, tiap detik, bahkan saat sedang sembah sujud pada-Nya), nikmat-nikmat dari Allah SWT yang begitu banyaknya bertaburan sering kali tertutupi begitu saja oleh ‘bayangan’ cobaan/penderitaan/kesulitan yang sebenarnya tak seberapa, hanya terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Padahal bisa saja cobaan/penderitaan/kesulitan yang mereka alami adalah buah dari kelakuan manusia yang tidak sesuai dengan perintah Allah SWT, sunnah Nabi Muhammad SAW, atau asas sebab-akibat.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

"Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab." (Q. S. Al-Mukmin: 40)

Perhatikan juga dengan seksama firman Allah SWT berikut ini:

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." (Q. S. An-Nisaa': 79)

Ilustrasi nikmat dan cobaan/penderitaan/kesulitan ini digambarkan sebagai berikut:

……………………….|…………………..…..|……………..……|……………….…..

Keterangan gambar:

  1. Titik-titik adalah nikmat dari Allah SWT
  2. Garis lurus adalah cobaan, penderitaan, kesulitan, dan sejenisnya

Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah” adalah dari karunia dan kasih sayang Allah SWT. Sedangkan makna “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” berarti dari manusia sendiri dan dari perbuatan manusia sendiri.

Dengan berlebihan dalam menyikapi “garis lurus” dalam gambar di atas, manusia terhalang dari mensyukuri nikmat dan otomatis sangat berpotensi untuk kufur nikmat. Lagi-lagi, manusia banyak yang lalai dan berpura-pura lalai bahwa sikap seperti itu (kufur nikmat) dapat mengundang azab Allah SWT. Dalam firman-Nya Dia berkata:

“Dan (ingatlah juga) ketika Rabbmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih'.” (Q. S. Ibrahim: 7)

Hadanallahu wa iyyaakum. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Oktarizal Rais (Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18397/antara-syukur-dan-kufur/)
diedit seperlunya oleh Tim Artikel rumahfahima.org 

logo sjj

Pengunjung

Hari ini59
Kemarin219
Minggu ini2116
Bulan ini8551
All168506

Currently are 13 guests and no members online